Halo semua rekan yang tertarik dengan kesehatan kulit, semoga artikelnya berguna... Ditunggu selalu komentar dan inputnya... Khusus untuk intermezzo, adalah pengalaman unik selama praktek yang menurut saya cukup menarik untuk dishare... Happy reading...

Wednesday, January 26, 2011

Pake nama sendiri dooonggg ahhhh

Cerita pengalaman kemarin yang mau saya ungkapkan di sini mungkin menimbulkan kontroversial.... mungkin gak semua setuju dengan saya... karena mungkin ada juga yang pernah melakukannya.....

Kejadian paling gres ya kemarin ini...

Ada pasien... sepertinya seorang pramuwisma (pekerja rumah tangga/PRT), diantar oleh sang majikan... Penyakitnya sih biasa, gatal-gatal di tangan, karena tak cocok dengan deterjen yang baru diganti mereknya oleh ibu majikan.

(Selama saya praktek, memang ada beberapa PRT yang diajak berobat oleh majikannya.... bahkan ada seorang babysitter yang diajak berobat ke erha untuk mengobati fleknya...wah two thumbs up dech untuk sang majikan itu... karena sekali berobat aja ratusan ribu... hebatnya lagi gak cuma sekali...)

Balik lagi ke cerita PRT yang kemarin diajak berobat.. dalam hati saya senang, majikannya baik mau mengeluarkan uang konsultasi + obat yang mungkin setara dengan 50-70% gaji PRT-nya...
Karena kemarin pasien lumayan banyak, makanya saya kurang memperhatikan detail pasien... (salah saya juga "curiga" di awal...hehehe)
Setelah saya memberikan penjelasan dan resep obat,... saat mau keluar, majikan pasien bilang " Dok, saya minta diagnosisnya ya....".
Saat itu saya langsung "kaku" dan bengong... biasanya orang minta diagnosis untuk klaim ke kantor... Saya langsung bingung, emang mau diklaim kemana? Saya baru sadar, PRT itu berobat menggunakan nama majikannya!!! Jadi, supaya bisa ditagih ke kantor majikan... Woalahhhh...

Kesel rasanya... ketipu saya! Awalnya dalam hati saya sudah memuji majikan ini yang mau membawa PRTnya berobat... eh taunya dengan cara yang gak bener....

Ada lagi kejadian sekitar 2-3 bulan yang lalu.
Sepasang kekasih datang berobat... yang berobat sebenarnya yang laki-laki... dengan penyakit kelamin... Saat datang kedua kali yang datang cuma pasiennya sendirian... Trus saya bilang jangan lupa pacarnya diobatin juga ya...
Selang seminggu pasien datang lagi, kali ini dengan pacarnya lagi... Yang daftar nama pasien laki-laki tersebut, saya pikir wadao kenapa nih? Jangan-jangan kambuh....
Saya tanya, " Masih ada keluhannya, pak X..?"
Sang laki-laki menjawab," Yang mau berobat pacar saya dok... Pake nama saya soalnya pacar saya kalau berobat gak diganti kantor...!"
Wahhh... parah nih... Langsung saya jelaskan gak bisa dan minta pasien mendaftar dengan namanya sendiri.... Kayaknya muka saya langsung bete juga dech... hehehe...

Ingat, rekam medis punya aspek hukum lhooooo!!!

2 comments:

  1. Cerita ini bagaikan cerber, 'sometimes' saya mau tidak mau jg terpaksa menandatangani alias menyetujui claim medical yg dilakukan staff XX di kantor, dimana quota medical-nya sudah habis dan diclaim an. staff YY yg jatah medical-nya masih banyak krn jarang sakit. Belum lagi kasus memundurkan tanggal pengobatan di kuitansi untuk menunggu kuota baru, dll. Namun yg menjadi bahan pertimbangan saya, krn biasanya ybs mengaku jujur sebelum minta approvel. Kalau mau menegakkan aturan/hukum perusahaan 100%, terkesan sebagai pimpinan/atasan kita sama sekali tidak berperasaan terhadap kesusahan karyawan yg sedang sakit. Memang tdk semua kasus spt ini patut disetujui, kalaupun sampai di-approve perasaan bersalah tlh melanggar aturan itu pasti ada, namun kadang saya berharap apa yg telah diputuskan bisa bernilai 'lebih' dr segi manusiawi. Hmm..benar-benar dilema dok...

    ReplyDelete
  2. Halo Mimi... hehe kamu memang komentator yang paling setia....
    Sebenarnya saya lebih mengacu ke medical recordnya... bukan masalah pembayarannya... Harusnya tiap orang harus memiliki medical record sendiri... karena medical record memiliki aspek hukum...
    Misalnya pasien A berobat dengan nama pasien B, padahal pasien A datang dengan penyakit kelamin misalnya... maka bila pasien B memerlukan surat keterangan sehat misalnya... maka penyakit kelamin ini akan sangat dipertimbangkan.....
    Masalah pembayaran.. kalau di klinik/praktek pribadi.. bisa keluar kwitansi an orang lain..
    Buat saya ini merupakan "penipuan" kecil seperti "white lie" yang mungkin bisa dipertimbangkan terutama bila yang sakit ortu... tapi untuk masalah medical record... bahwa tiap orang harus punya medical record sendiri, menurut saya hal ini tak dapat dikompromikan...

    ReplyDelete

Sebutkan nama terlebih dahulu, bila ingin mendapatkan respons...thank you.. Tanpa nama akan langsung saya hapus ya......

Note: Only a member of this blog may post a comment.